Jumat, 05 April 2013

Kritik Modernisasi dalam Pembangunan


1.      Pendahuluan
            Setelah Perang Dunia II yang dimenangkan oleh sekutu yang pada akhirnya menjadi negara adi kuasa, baik negara pemenang maupun negara yang kalah mulai kembali membangun negaranya masing-masing. Dalam perkembangannya Amerika Serikat terlihat sangat mudah membangun negaranya kembali dibanding dengan negara sekutu lainnya seperti Perancis dan Inggris. Pasalnya secara geografis wilayah Amerika Serikat bukan tempat pertempuran perang. Sehingga dalam membangun negaranya kembali, Amerika Serikat tidak mengalami kesulitan dibanding dengan negara lain.
            Di satu sisi negara yang mengalami kekalahan perang sudah tentu mendapatkan banyak kesulitan dalam pembangunan negara. Trauma dan kerugian yang dirasakan negara yang kalah perang membuat pembangunan negara terhambat. Namun kejadian ini tidak terlalu dirasakan oleh negara Rusia. Buktinya Rusia mampu bangkit kembali setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II. Rusia membangun negaranya dalam segala aspek kehidupan dan salah satu yang paling menonjol adalah dibidang teknologi dan penyebaran ideologi komunisnya.
             Hal serupa juga dilakukan oleh Amerika, dimana negara tersebut juga sudah mulai membangun negaranya dalam segala aspek dan yang paling ditekan adalah teknologi. Akibatnya antara Amerika Serikat dan Rusia secara tidak langsung mengalami perang ideologi dan perang antar kemutakhiran teknologi atau disebut dengan perang dingin (cold war). Antara kedua negara tersebut saling mengungguli dalam teknologi dan saling menyebarkan pengaruh/ideologi.
            Dalam menyebarkan pengaruh politik, Amerika Serikat melaksanakan Marshall Plan. Dimana tujuan kebijakan tersebut yaitu untuk memberikan bantuan kepada negara-negara di Eropa Barat dalam membangun kembali negaranya akibat Perang Dunia II. Namun disisi lain tujuan yang paling mendasar pelaksanaan kebijakan tersebut adalah ingin menyebar pengaruh politik dan mengambil alih percaturan kekuasaan di dunia.
            Berakhirnya Perang Dunia II juga melahirkan beberapa negara merdeka dari berbagai belahan dunia salah satunya di Asia yaitu Indonesia. Sebagai negara baru, tentunya Indonesia belum memiliki sistem ketatanegaraan, sehingga masih harus  mengadopsi pada negara lain. Kondisi yang dialami oleh Dunia Ketiga seperti ini disambut baik oleh Amerika Serikat yang pada saat itu sangat berkuasa dengan melakukan beberapa penelitian pada mulanya dan memberikan pengaruh-pengaruh politik pada akhirnya. Sehingga sampai sekarang ini pun pengaruh Amerika Serikat terhadap Indonesia atau Negara Dunia Ketiga lainnya masih berkembang. Salah satu pengaruhnya yang sangat berkembang yaitu Teori Modernisasi.
2.      Review Materi Teori Modernisasi
            Teori Modernisasi merupakan pendekatan paling klasik dalam Teori Pembangunan. Teori yang berkembang pasca Perang Dunia II ini adalah pengaruh Negara Amerika Serikat terhadap negara-negara Dunia Ketiga. Teori Modernisasi ini juga disebut sebagai “Amerikanisasi” yang mana dalam teori ini mengemukakan adanya “baik yang universal”. Sudah barang tentu “baik” disini merupakan baik menurut Amerika yang bersifat universal atau “menyeluruh”.
            Dalam Teori Modernisasi, acuan pokoknya diadopsi dari Ilmu Biologi yaitu mengenai teori fungsionalisme yang dikemukakan oleh Talcot Parsons. Menurut tokoh tersebut, masyarakat tak ubahnya seperti organ tubuh manusia, dan oleh karena itu masyarakat manusia dapat juga dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia. Dalam masyarakat terdapat berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain serta memiliki fungsi yang berbeda-beda seperti pada bagian tubuh manusia. Sehingga apabila setiap bagian-bagian dalam masyarakat menjalani fungsinya masing-masing maka secara keseluruhan akan mencapai keseimbangan dan mewujudkan tujuan dari masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh dalam sebuah negara, Pemerintah berfungsi untuk mencapai tujuan umum, Lembaga Hukum dan Agama menjalankan tugasnya yaitu fungsi integrasi, serta keluarga dan lembaga pendidikan menjalankan fungsinya dalam usaha pemeliharaan. Dan jika semua bagian-bagian tersebut melaksanakan fungsinya masing-masing maka akan terjadi keseimbangan dan tujuan negara yaitu mensejahterakan masyarakat akan tercapai.
            Smelser seorang ahli sosiolog mengemukakan pendapat lain untuk menjelaskan Teori Modernisasi di negara Dunia Ketiga. Ia menggunakan konsep diferensiasi struktural untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam tesisnya tentang teori ini. Baginya modernisasi akan selalu melibatkan diferensiasi struktural karena dalam proses modernisasi ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Sehingga setelah adanya diferensiasi struktural, perlaksanaan fungsi akan dapat berjalan lebih efisien.
            Di dalam masyarakat modern di suatu negara telah mengalami diferensiasi struktural. Lembaga-lembaga dalam negara mendapatkan fungsi lebih khusus/spesifik akibat pembagian fungsi ke dalam sub-substruktur. Sehingga dalam tiap-tiap lembaga yang telah memiliki satu fungsi yang khusus dapat menjalankan dan bertanggung jawab akan tugasnya secara lebih baik dan efisien karena hanya terfokus pada satu fungsi. Contohnya dalam sebuah negara, terdapat sub-sub struktur dibawahnya sebagai artikulasi kepentingan masyarakat. Dalam lembaga ekonomi, koperasi berfungsi hanya fokus pada perekonomian mikro (kerakyatan). Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, sekolah-sekolah berfungsi sebagai tempat pengajaran dan pengembangan diri.
            Menurut Rostow seorang ahli ekonomi, dalam modernisasi terdapat tahapan-tahapan pembagunan ekonomi. Terdapat lima tahapan pembangunan ekonomi di negara Dunia Ketiga, yaitu mulai dari tradisional dan berakhir pada tahap masyarakat dengan konsumsi massa tinggi (modern). Diantara kedua kutub ini, Rostow menguraikan lebih jauh tentang tahapan yang perlu dilalui yakni tahapan tinggal landas. Sehingga dalam pembangunan negara Dunia Ketiga, perlu melewati tahap-tahap tersebut hingga mencapai tahap akhir yaitu masyarakat modern. Seperti dalam teori Dialektika Historisnya Karl Marx, bahwa tahap-tahap perkembangan masyarakat yaitu dari primitif – feodal – kapitalis – sosialis – komunis. Masyarakat perlu menjalani satu persatu tahap tersebut hingga pada akhirnya  sampai menuju titik akhir yaitu masyarakat komunis.
            Berbeda lagi pendapat dari Columan yaitu menggunakan pendekatan politik pembangunan. Dimana pendekatan tersebut hampir sama dengan pandangan Smeilser dimana perlu adanya diferensiasi dalam struktur politik. Sehingga setelah adanya diferensiasi politik tersebut akan menghasilkan semakin tegasnya perbedaan masing-masing fungsi kelembagaan politik. Selain itu Teori modernisasi ini juga berangkat dari Teori Ekonomi Liberal  tentang konsep Satanic Circle yang menjelaskan siklus Rich – Saving – Productivitas – Income – Rich. Dimana siklus tersebut menghasilkan pendapat yang terkenal yaitu “why you are poor ? because you have poor policy.
3.      Kritik
            Dalam perkembangan pengaruh teori Modernisasi dalam praktek pembangunan negara Dunia Ketiga yang dalam hal ini salah satunya Negara Indonesia,  modernisasi mengakibatkan pergeseran nilai-nilai luhur Indonesia akibat tergerus arus modernisasi. Modernisasi yang pada awalnya tertuju hanya pada pembangunan negara Dunia Ketiga, merambat ke seluruh aspek kehidupan dalam masyarakat. Dalam hal ini modernisasi atau amerikanisasi menggeser kedudukan budaya lokal. Padahal belum tentu nilai-nilai dalam budaya yang masuk sama atau diterima dengan nilai-nilai budaya lokal itu sendiri. Hal ini mengakibatkan lunturnya nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lokal dan hilangnya identitas suatu bangsa. Apalah arti sebuah bangsa jikalau bangsa itu sendiri tidak memiliki identitas yang menjadi ciri khasnya dan yang membedakannya dari negara lain.
            Selain itu dalam Teori Modernisasi menurut pendekatan fungsionalisme dan diferensiasi struktural memang efisien, mengingat adanya pembagian tugas serta peranan apalagi dengan adanya pemfokusan fungsi dalam satu bagian atau sub struktur. Namun dalam praktek keseluruhannya, pembagian fungsi ini akan mengakibatkan tumpang tindih tanggung jawab serta kurangnya koordinatif maupun kerja sama antar sub-sub struktur. Padahal bagian-bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berhubungan erat satu sama lain dalam mewujudkan pembangunan negara.
            Model tahapan pembangunan dalam Teori Modernisasi terlihat sangat prosedural dan sangat lamban. Ketika dalam perkembangannya suatu masyarakat sebenarnya bisa langsung bertransformasi dari masyarakat tradisonal ke masyarakat modern tanpa melaui tahapan-tahapan lain yang sebenarnya pada akhirnya menuju pada satu titik juga yaitu modernisasi itu sendiri. Sehingga akan menghemat waktu dan juga mempercepat proses pembangunan negara.
4.      Penutup
            Teori Modernisasi dalam pembangunan yang berkembang di negara Dunia Ketiga masih memiliki unsur-unsur politik dari negara asalnya. Permasalahan dan latar belakang yang berbeda dari tiap-tiap negara dalam mewujudkan pembangunan tidak hanya bisa diselesaikan dengan teori modernisasi saja. Apalagi teori ini masih sangat subjektif dalam prakteknya. Selain itu dalam tahapan pembangunan seharusnya negara Dunia Ketiga harus bersifat transformatif.

Sumber:Bahan Kuliah Teori Pembangunan oleh Muhtar Haboddin,S.IP.,M.A dan Fathur Rahman,S.IP.,M.A

Tidak ada komentar: