1.
Pendahuluan
Setelah Perang Dunia II yang
dimenangkan oleh sekutu yang pada akhirnya menjadi negara adi kuasa, baik
negara pemenang maupun negara yang kalah mulai kembali membangun negaranya
masing-masing. Dalam perkembangannya Amerika Serikat terlihat sangat mudah
membangun negaranya kembali dibanding dengan negara sekutu lainnya seperti
Perancis dan Inggris. Pasalnya secara geografis wilayah Amerika Serikat bukan tempat
pertempuran perang. Sehingga dalam membangun negaranya kembali, Amerika Serikat
tidak mengalami kesulitan dibanding dengan negara lain.
Di satu sisi negara yang mengalami
kekalahan perang sudah tentu mendapatkan banyak kesulitan dalam pembangunan negara.
Trauma dan kerugian yang dirasakan negara yang kalah perang membuat pembangunan
negara terhambat. Namun kejadian ini tidak terlalu dirasakan oleh negara Rusia.
Buktinya Rusia mampu bangkit kembali setelah kekalahannya dalam Perang Dunia
II. Rusia membangun negaranya dalam segala aspek kehidupan dan salah satu yang
paling menonjol adalah dibidang teknologi dan penyebaran ideologi komunisnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Amerika, dimana
negara tersebut juga sudah mulai membangun negaranya dalam segala aspek dan
yang paling ditekan adalah teknologi. Akibatnya antara Amerika Serikat dan
Rusia secara tidak langsung mengalami perang ideologi dan perang antar
kemutakhiran teknologi atau disebut dengan perang dingin (cold war). Antara kedua negara tersebut saling mengungguli dalam
teknologi dan saling menyebarkan pengaruh/ideologi.
Dalam menyebarkan pengaruh politik,
Amerika Serikat melaksanakan Marshall Plan.
Dimana tujuan kebijakan tersebut yaitu untuk memberikan bantuan kepada
negara-negara di Eropa Barat dalam membangun kembali negaranya akibat Perang Dunia
II. Namun disisi lain tujuan yang paling mendasar pelaksanaan kebijakan
tersebut adalah ingin menyebar pengaruh politik dan mengambil alih percaturan
kekuasaan di dunia.
Berakhirnya Perang Dunia II juga
melahirkan beberapa negara merdeka dari berbagai belahan dunia salah satunya di
Asia yaitu Indonesia. Sebagai negara baru, tentunya Indonesia belum memiliki sistem
ketatanegaraan, sehingga masih harus mengadopsi pada negara lain. Kondisi yang dialami
oleh Dunia Ketiga seperti ini disambut baik oleh Amerika Serikat yang pada saat
itu sangat berkuasa dengan melakukan beberapa penelitian pada mulanya dan
memberikan pengaruh-pengaruh politik pada akhirnya. Sehingga sampai sekarang
ini pun pengaruh Amerika Serikat terhadap Indonesia atau Negara Dunia Ketiga
lainnya masih berkembang. Salah satu pengaruhnya yang sangat berkembang yaitu
Teori Modernisasi.
2.
Review
Materi Teori Modernisasi
Teori Modernisasi merupakan
pendekatan paling klasik dalam Teori Pembangunan. Teori yang berkembang pasca
Perang Dunia II ini adalah pengaruh Negara Amerika Serikat terhadap
negara-negara Dunia Ketiga. Teori Modernisasi ini juga disebut sebagai “Amerikanisasi” yang mana dalam teori ini
mengemukakan adanya “baik yang universal”. Sudah barang tentu “baik” disini
merupakan baik menurut Amerika yang bersifat universal atau “menyeluruh”.
Dalam Teori Modernisasi, acuan
pokoknya diadopsi dari Ilmu Biologi yaitu mengenai teori fungsionalisme yang
dikemukakan oleh Talcot Parsons. Menurut tokoh tersebut, masyarakat tak ubahnya
seperti organ tubuh manusia, dan oleh karena itu masyarakat manusia dapat juga
dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia. Dalam masyarakat terdapat
berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain serta memiliki fungsi
yang berbeda-beda seperti pada bagian tubuh manusia. Sehingga apabila setiap
bagian-bagian dalam masyarakat menjalani fungsinya masing-masing maka secara
keseluruhan akan mencapai keseimbangan dan mewujudkan tujuan dari masyarakat
itu sendiri. Sebagai contoh dalam sebuah negara, Pemerintah berfungsi untuk
mencapai tujuan umum, Lembaga Hukum dan Agama menjalankan tugasnya yaitu fungsi
integrasi, serta keluarga dan lembaga pendidikan menjalankan fungsinya dalam
usaha pemeliharaan. Dan jika semua bagian-bagian tersebut melaksanakan
fungsinya masing-masing maka akan terjadi keseimbangan dan tujuan negara yaitu mensejahterakan
masyarakat akan tercapai.
Smelser seorang ahli sosiolog
mengemukakan pendapat lain untuk menjelaskan Teori Modernisasi di negara Dunia
Ketiga. Ia menggunakan konsep diferensiasi
struktural untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam tesisnya tentang
teori ini. Baginya modernisasi akan selalu melibatkan diferensiasi struktural
karena dalam proses modernisasi ketidakteraturan struktur masyarakat yang
menjalankan berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk
menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Sehingga setelah adanya diferensiasi
struktural, perlaksanaan fungsi akan dapat berjalan lebih efisien.
Di dalam masyarakat modern di suatu
negara telah mengalami diferensiasi struktural. Lembaga-lembaga dalam negara
mendapatkan fungsi lebih khusus/spesifik akibat pembagian fungsi ke dalam
sub-substruktur. Sehingga dalam tiap-tiap lembaga yang telah memiliki satu
fungsi yang khusus dapat menjalankan dan bertanggung jawab akan tugasnya secara
lebih baik dan efisien karena hanya terfokus pada satu fungsi. Contohnya dalam
sebuah negara, terdapat sub-sub struktur dibawahnya sebagai artikulasi
kepentingan masyarakat. Dalam lembaga ekonomi, koperasi berfungsi hanya fokus
pada perekonomian mikro (kerakyatan). Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan,
sekolah-sekolah berfungsi sebagai tempat pengajaran dan pengembangan diri.
Menurut Rostow seorang ahli ekonomi,
dalam modernisasi terdapat tahapan-tahapan pembagunan ekonomi. Terdapat lima
tahapan pembangunan ekonomi di negara Dunia Ketiga, yaitu mulai dari tradisional
dan berakhir pada tahap masyarakat dengan konsumsi massa tinggi (modern).
Diantara kedua kutub ini, Rostow menguraikan lebih jauh tentang tahapan yang
perlu dilalui yakni tahapan tinggal landas. Sehingga dalam pembangunan negara Dunia
Ketiga, perlu melewati tahap-tahap tersebut hingga mencapai tahap akhir yaitu
masyarakat modern. Seperti dalam teori Dialektika Historisnya Karl Marx, bahwa
tahap-tahap perkembangan masyarakat yaitu dari primitif – feodal – kapitalis –
sosialis – komunis. Masyarakat perlu menjalani satu persatu tahap tersebut
hingga pada akhirnya sampai menuju titik
akhir yaitu masyarakat komunis.
Berbeda lagi pendapat dari Columan
yaitu menggunakan pendekatan politik pembangunan. Dimana pendekatan tersebut
hampir sama dengan pandangan Smeilser dimana perlu adanya diferensiasi dalam
struktur politik. Sehingga setelah adanya diferensiasi politik tersebut akan
menghasilkan semakin tegasnya perbedaan masing-masing fungsi kelembagaan
politik. Selain itu Teori modernisasi ini juga berangkat dari Teori Ekonomi
Liberal tentang konsep Satanic Circle yang menjelaskan siklus Rich – Saving – Productivitas – Income –
Rich. Dimana siklus tersebut menghasilkan pendapat yang terkenal yaitu “why you are poor ? because you have poor
policy.
3.
Kritik
Dalam perkembangan
pengaruh teori Modernisasi dalam praktek pembangunan negara Dunia Ketiga yang
dalam hal ini salah satunya Negara Indonesia,
modernisasi mengakibatkan pergeseran nilai-nilai luhur Indonesia akibat
tergerus arus modernisasi. Modernisasi yang pada awalnya tertuju hanya pada
pembangunan negara Dunia Ketiga, merambat ke seluruh aspek kehidupan dalam
masyarakat. Dalam hal ini modernisasi atau amerikanisasi
menggeser kedudukan budaya lokal. Padahal belum tentu nilai-nilai dalam budaya
yang masuk sama atau diterima dengan nilai-nilai budaya lokal itu sendiri. Hal
ini mengakibatkan lunturnya nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lokal dan
hilangnya identitas suatu bangsa. Apalah arti sebuah bangsa jikalau bangsa itu
sendiri tidak memiliki identitas yang menjadi ciri khasnya dan yang
membedakannya dari negara lain.
Selain itu dalam Teori Modernisasi
menurut pendekatan fungsionalisme dan diferensiasi struktural memang efisien,
mengingat adanya pembagian tugas serta peranan apalagi dengan adanya pemfokusan
fungsi dalam satu bagian atau sub struktur. Namun dalam praktek keseluruhannya,
pembagian fungsi ini akan mengakibatkan tumpang tindih tanggung jawab serta
kurangnya koordinatif maupun kerja sama antar sub-sub struktur. Padahal
bagian-bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berhubungan
erat satu sama lain dalam mewujudkan pembangunan negara.
Model tahapan pembangunan dalam
Teori Modernisasi terlihat sangat
prosedural dan sangat lamban. Ketika dalam perkembangannya suatu masyarakat
sebenarnya bisa langsung bertransformasi dari masyarakat tradisonal ke
masyarakat modern tanpa melaui tahapan-tahapan lain yang sebenarnya pada
akhirnya menuju pada satu titik juga yaitu modernisasi itu sendiri. Sehingga
akan menghemat waktu dan juga mempercepat proses pembangunan negara.
4.
Penutup
Teori Modernisasi dalam pembangunan
yang berkembang di negara Dunia Ketiga masih memiliki unsur-unsur politik dari
negara asalnya. Permasalahan dan latar belakang yang berbeda dari tiap-tiap
negara dalam mewujudkan pembangunan tidak hanya bisa diselesaikan dengan teori
modernisasi saja. Apalagi teori ini masih sangat subjektif dalam prakteknya.
Selain itu dalam tahapan pembangunan seharusnya negara Dunia Ketiga harus
bersifat transformatif.
Sumber:Bahan
Kuliah Teori Pembangunan oleh Muhtar Haboddin,S.IP.,M.A dan Fathur Rahman,S.IP.,M.A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar