Sabtu, 14 September 2013

Menjadi Mahasiswa yang…



            Menjadi mahasiswa adalah keinginanku saat aku menduduki kelas akhir disekolah menengah atas. Dan akhirnya keinginanku diizinkan Allah sehingga aku akhirnya di terima di jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu  Politik Universitas Brawijaya jalur SNMPTN Undangan dan mendapatkan beasiswa. Sungguh indah rencana Allah terhadapku sehingga dia memberikan jalan yang paling indah dalam hidupku.
            Berangkat dari sebuah pulau di perbatasan, ku tinggalkan semua kenanganku di pulau itu. Kenangan indah ku dari kecil hingga ku besar, serta perjuanganku mendapatkan beasiswa kuliah. Ku bawa semua doa dan harapan dari seluruh keluargaku yang melepaskan aku untuk menuntut ilmu di daerah timur Pulau Jawa. Dan kubawa semangat dan harapanku kesana demi mewujudkan impianku dan impian keluargaku. Batam, kutinggalkan kau dan kelak kan ku bangun engkau menjadi sebuah negeri madani.
            Brawijaya dalam pandanganku pertama kali adalah Kampus yang sangat besar dengan bangunannya yang besar serta memiliki nama yang besar pula dikalangan kampus-kampus di Indonesia. Aku sangat bangga bisa diterima di universitas ini. Sebagai seorang anak perempuan yang memberanikan diri merantau jauh dari keluarga untuk menuntut ilmu, menjadi mahasiswa universitas ternama, mendapatkan beasiswa, semua itu telah membuatku lupa diri akan artinya “merantau” dan “menuntut ilmu” yang sesusngguhnya. Merantau bukan hanya berarti pergi dari daerah kelahiran dan hidup sendiri. Sedangkan menuntut ilmu bukan hanya datang ke kampus mendengarkan dan memperhatikan dosen serta mengerjakan tugas. Semua itu aku pahami setelah perjalanan satu semester di kampus biru Universitas Brawijaya ini. Sebuah kampus dimana aku menggatungkan harapanku dan perjuanganku disana.
            Mengadapi ospek adalah salah satu ucapan selamat datang bagi setiap kampus untuk menyambut para mahasiswa baru. Aku melewati ospek dengan dua tahap, universitas dan fakultas. Di universitas, banyak sekali materi-materi awal tentang perkuliahan, organisasi, serta pengalaman-pengalaman dari senior tentang menjadi mahasiswa sejati. Kalau di fakultas, materinya lebih ke disiplinan dan kreatifitas mahasiswa. Sehingga seakan-akan ketika di universitas aku membayangkan nantinya aku lah yang beridiri didepan sana dan mengatakan kata-kata motivasi ke pada juniorku dan menceritakan pengalaman-pengalamanku ketika aku memenangkan suatu lomba, atau ketika aku menjadi perwakilan kampus dalam ajang internasional. Semua itu terbang melayang dipikiranku bersama harapan-harapanku yang lainnya. Dan saat difakultas aku membayangkan aku menjadi mahasiswa yang sukses dengan berwirausaha yang didanai oleh Dikti serta menjadi aktivis kampus yang mempunyai banyak kegiatan. Semuanya sudah tergambar jelas dalam benakku berbaur menjadi harapan.
Setidaknya bayang-bayang ataupun harapan itu telah mengobati kelelahanku saat mempersiapkan bahan-bahan untuk ospek yang menyulitkan sekali. Aku harus mencari bahan-bahannya, mendesain, menggunting, serta menempel-menempel atribut-atributnya sendiri. Aku merasakan beratnya hidup merantau saat itu, ketika orang tua atau pun saudara tidak ada didekatku untuk membantu. Aku berusaha semuanya sendiri. Dan ini adalah latihan pertama untukku menyelesaikan semuanya sendiri. Yah karena pada hakikatnya semua ini untuk menuju mandiri. Belum lagi tugas menulis essay yang belum selesai dan istirahat yang kurang, membuat penderitaanku semakin lengkap dengan semua kesendirianku. Tanpa keluarga, saudara, dan pastinya teman. Tidak mungkin aku menyuruh teman sebelah kosan yang baru aku kenal seminggu. Dan nikmatnya penderitaan itu bagiku sekarang adalah sebuah proses dan perjuangan yang membuatku tegar saat ini. Setidaknya itu hanyalah awal dari pahit manisnya  “merantau” dan perjuangan “menuntut ilmu”. Terima kasih wahai kampus tercinta atas ucapan selamat datang yang mendewasakanku pada akhirnya. Harapanku saat itu adalah menyelesaikan tugas dan mengakhiri ospek dengan lancar, cukup sederhana bukan.
Setelah masa ospek berakhir, bukan main lega rasanya hatiku. Sekarang tinggal fokus untuk menuntut ilmu dan mengikuti berbagai macam aktifitas di organisasi. Aku sudah mempunyai beberapa teman walaupun belum begitu dekat. Kebudayaan yang menghambatku untuk cepat bersosialisasi dengan baik kepada teman-teman kelasku yang lain. Kadang aku merasa lebih baik sendiri dari pada mempunyai teman yang tidak mengenalku secara baik. Tapi itu adalah kesalahan besar, aku menutup diriku dari teman-teman lain yang bagiku asing. Padahal yang asing bukanlah mereka, tapi aku. Aku yang datang ke daerah mereka yang mempunyai bahasa, budaya, dan adat istiadat yang tentu sangat berbeda dariku. Oh Brawijaya, bantu aku menghadapi perbedaan ini, itu harapanku selanjutnya.
Tugas mulai menumpuk, quis dan UTS segera menyusul. Aku dan diriku mulai fokus kesana. Sempat berinteraksi dengan teman lain, namun tidak banyak yang menimbulkan kedekatan. Aku tidak terlalu memikirkan, namun sebenarnya itu membuatku malas untuk kuiah. Selain itu organisasi-organisasi yang kuimpikan sejak awal malah tidak ku pedulikan. Yang aku tahu hanyalah menyelesaikan tugas dengan cepat dan mendapatkan nilai dengan baik. Namun ternyata ada yang kurang dalam diriku karna hal itu. Aku mulai mencari apa sebenarnya keinginan dan harapanku sejak awal. Ada yang tidak beres dari diriku. Bukan mereka yang harus beradaptasi. Tapi akulah yang harusnya beradaptasi dengan lingkungan mereka. Aku jadi ingat salah satu pepatah dari orang tuaku “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Aku tinggal di Jawa maka aku harus mengetahui dan mempelajari bagaimana kultur Jawa. Sehingga dengan itu semua, aku mulai membuka diri dan akhirnya seperti sekarangini, aku bahagia memiliki teman yang banyak. Dan ternyata kultur yang berbeda tidak membatasi kami dalam pertemanan. Seiring dengan lancarnya pertemanan, suka duka tugas kuliah pun berhasil ku atasi dengan lancar. Hingga pada akhirnya kehidupanku menjurus hanya kepada kosan-ngampus-tugas-teman-jalan. Brawijaya, terima kasih kau telah menunjukkan bagaimana cara untuk beradaptasi.
Tiga bulan sudah ku lalui disini, di negeri orang kata orang tuaku. Budaya serta masyarakatnya sudahku kenal baik. Selain itu dunia kampus juga ku geluti dengan santai, walaupun kadang juga harus ngebut untuk menyelesaikan tugas. Bermain dan jalan-jalan dengan teman melengkapi itu semua. Aku sudah mulai nyaman disini, dan melupakan kerinduanku untuk pulang ke Batam. Aktivitasku bertambah juga setelah aku mengikuti beberapa organisasi mahasiswa. Ternyata banyak pelajaran dan wawasan yang tidak pernah diajarkan di kampus. Disana aku makin banyak teman, pengetahuan, serta wawasan. Selain itu semakin banyak canda tawa dihidupku. Yah, walau terkadang karena sibuk organisasi membuat kuliah keteteran. Namun seiring waktu aku sudah memprioritaskan mana yang paling utama, sehingga sekarang berjalan stabil. Saat itu, dimana semua berjalan lancar, aku hanya berharap semua ini tidak hanya berakhir disini. Masih harus ada yang ditingkatkan, masih ada pencapaian yang harus dikejar. Aku harus mulai menata masa depanku, aku harus mengembangkan potensiku, dan aku harus mempunyai target-target ke depannya yang lebih untuk kesuksesanku. Memang agak terdengar ambisius, tapi itu yang membuatku terpacu. Banyak yang harus ku capai sejak saat itu hingga kini. Memang manusia tidak pernah puas, itulah hakikat dasar manusia bukan.
Aku mendalami filsafat, itu adalah salah satu mata kuliah yang aku senangi. Aku mengikuti organisasi dibidang karya tulis dan agama. Aku mengikuti beberapa kepanitiaan sebuah kegiatan. Aku aktif juga di organisasi diluar kampus. Aku aktif di himpunan jurusanku. Dan yang utama aku aktif dengan kuliahku di kelas. Itu semua mendorongku dalam menjalani semseter I ini dengan membuahkan hasil IP yang memuaskan. Untuk pertama kalinya yang bisa membuat keluargaku bahagia atas kepergianku adalah IP yang aku miliki. Setidaknya sekarang dan hingga nanti akan ku kirimkan selalu kebahagiaan untuk mereka dengan prestasi-prestasiku yang lain dari Universitas ini. Amin
Dan sekarang aku sudah menjalani semester II, walaupun katanya semester-semester awal mahasiswa memang masih semangat, aku tidak ingin semangatku ini luntur seiring dengan bertambahnya semester. Aku ingin menjadi mahasiswa soleha dan selalu menjaga agamanya. Aku ingin aktif membuat tulisan, dan menjadi penulis handal. Aku ingin menjadi mahasiswa dengan penuh prestasi yang membanggakan. Aku ingin menajdi mahasiswa yang aktif di organisasi yang tidak mau menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang). Aku ingin menjadi mahasiswa yang sukses dengan wirausahanya. Aku ingin menjadi teman yang menyenangkan. Selain itu aku ingin menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Aku ingin menjadi mahasiswa yang membanggakan organisasi yang aku ikuti. Aku ingin menjadi mahasiswa yang bisa mengharumkan nama himpunan, jurusan, fakultas, dan universitas. Aku ingin menjadi itu semua. Aku ingin menjadi diriku yang seperti itu. Ya Allah, biarkan hamba mengutarakan itu semua, dan engkau mengabulkannya kelak. Dan itu semua akan dan sedang ku wujudkan bersama almamater kebanggaanku di satu tempat sebagai naungan terindah. Yaitu di bawah Panji Brawijaya Malang Jawa Timur di bumi Indonesia.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

            

Tidak ada komentar: