Sabtu, 14 September 2013

“Perkembangan Teori Neo Dependensi dan Kritiknya ”


Dalam perkembangan Teori Pembangunan, kemunculan sebuah teori diikuti dengan kritik yang menolak teori tersebut. Seperti halnya Teori Modernisasi yang muncul diawal, mendapat kritik dari Teori Dependensi Klasik yang muncul selanjutnya. Dan Teori Dependensi Klasik juga mendapatkan kritik, sehingga memunculkan Teori Dependensi Baru sebagai penyempurnaannya. Hal ini yang disebut Hegel sebagai dialektika. Ketika ada suatu tesis yang menunjukkan suatu fenomena tertentu, maka pasti akan memunculkan anti tesis yang melawan fenomena tersebut. Sehingga apabila tesis dan antithesis disandingkan maka menghasilkan sintesis yang merupakan hasil penarikan dari dua diskursus tersebut.
Jika kita melihat Teori Modernisasi sebagai tesis dan Teori Dependensi Klasik menjadi antitesis, maka kemunculan Teori Dependensi Baru sebagai sebuah sintesisnya. Atau untuk menjelaskannya, maka perhatikan meta konsep berikut:

Tesis                Antitesis                      Teori Modernisasi        Teori Dependensi Klasik
 

Sintesis                                                      Teori Dependensi Baru
Jika dalam Teori Modernisasi, sudut permasalahan pembangunan lebih banyak dari sudut kepentingan Amerika Serikat. Sedangkan Teori Dependensi Klasik memiliki posisi yang sebaliknya, lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan Negara Dunia Ketiga. Maka Teori Dependensi Baru melihat permasalahan pembangunan dengan menitikberatkan dinamika antar hubungan Negara maju dengan Negara Dunia Ketiga. Selain itu, Dependensi Baru juga merupakan penyempurnaan Teori Dependensi Klasik atas kritik yang dilontarkan pada Teori Dependensi Klasik.
Menurut Chilote dalam bukunya Teori Perbandingan Politik: Penelusuran Paradigma, banyak penulis menemukan bahwa upaya-upaya untuk mengidentifikasi penjelasan-penjelasan pembangunan yang netral adalah bersifat statis, dan ini menjadikan perhatian diletakkan pda perubahan. C.S. Whitaker, Jr (1976) merujuk pada “dialektika perubahan pembangunan,” sama seperti penjelasan saya diatas.
Ada beberapa tokoh yang melakukan pembaruan dalam teori dependensi atau  disebut sebagai teori dependensi baru. Cardoso merupakan salah satu pencetus awal dari pembaruan dependensi tersebut. Menurutnya, pola hubungan antara Negara maju dengan Negara Dunia Ketiga yang menghasilkan ketergantungan tidak hanya berfokus pada keterbelakangan Negara Dunia Ketiga. Ia menggunakan metode yang ia sebut sebagai historis structural untuk menganalisa situasi konkrit Negara Dunia Ketiga. Ia cenderung untuk mengarahkan asal-mula timbulnya ketergantungan Dunia Ketiga sekaligus melihat arah perubahnnya.
Selain itu, menurut Cardoso tidak sepenuhnya factor ekstern sebagai penyebab utama ketergantungan. Adanya hubungan antara factor ekstern dan factor intern yang membangun struktur ketergantungan hingga pada akhirnya membentuk kelas dominan. Sudut pandangnya bukan pada dimensi ekonomis seperti dependensi klasik. Cardoso lebih tertarik terhadap aspek social-politik dari ketergantungan, khususnya pada perjuangan kelas dan konflik kelompok, serta pergerakan politik.
Cardoso juga melihat ketergantungan tidak hanya menimbulkan keterbelakangan terhadap Negara Dunia Ketiga. Ketrergantungan berpeluang juga menjadikan sebuah proses yang memiliki berbagai kemutakhiran akhir yang terbuka. Dalam penjelasan tersebut, struktur ketergantungan akan memberikan batas ruang lingkup kemungkinan perubahan, apabila terjadinya pergerakan perjuangan kelas dengan campur tangan Negara. Bisa dilihat bahwa dalam teori dependensi ini, perspektif Cardoso cenderung pada aliran marxis. Dan pada analisisnya bahwa pembangunan dan ketergantungan mewujud secara bersama-sama, Karena itu muncul situasi ketergantungan yang lebih dinamis yang ia sebut sebagai situasi pembangunan yang bergantung (associated-dependent development).
Pendekatan Cardoso adalah anti-imperialisme, namun apakah Marxis murni ? Cardoso mungkin membenarkan saat menanggapnya, berpendapat bahwa gagasannya merupakan pembaharuan landasan teori yang disusun oleh Marx dan Lenin.
Ada beberapa tokoh lain yang mengembangkan pemikiran Cardoso ke dalam sebuah realita hubungan antar negara. Salah satu diantaranya adalah Gold yang membahas tentang Pembangunan dan Ketergantungan Dinamis di Taiwan. Gold disini lebih berbeda dari yang lain. Dia cenderung melihat dimensi dinamika pembangunan dibanding dengan dimensi ketergantungannya dalam pembangunan suatu negara, terutama tentang pembangunan politik-ekonomi di Taiwan sebagai objek studinya. Gold mencoba menggunakan konsep dependensi dalam analisisnya terhadap pembangunan di Taiwan. Selain Gold dengan pembangunan Taiwan, ada lagi Koo yang membahas tentang Korea Selatan. Pemikiran Koo hampir sama dengan Gold dalam mengambil konsep teori dependensi untuk menganalisis pembangunan di suatu Negara. Namun Koo lebih melihat pada pola interaksi yang bersifat terus-menerus dalam suatu Negara, kelas social dan system dunia  dimana dalam hal ini objek studinya adalah Negara Korea Selatan.
Selain itu Mas’oed dengan NBO-nya (Negara Birokratik Otoriter) berpendapat bahwa Negara yang otoriter adalah penentu dalam kemajuan pembangunan. Intervensi Negara secara menyeluruh akan mempengaruhi pembangunan suatu Negara. Apalagi hal tersebut didukung oleh kekuatan militer Negara tersebut. Tidak ada yang menghambat pergerakan pembangunan dan akan mempercepat pertumbuhan dalam pembangunan. Pemikirina Mas’oed seperti halnya komunis (marxis). Membentuk sebuah Negara yang dipimpin oleh seorang yang otoriter menurutnya sangat ampuh dalam mengatasi ketergantungan dalam pembangunan.
Ada beberapa kekurangan dalam teori dari tokoh-tokoh tersebut. Dalam penjelasan Cardoso, ia berpendapat bahwa stabilitas ekonomi yang mempengaruhi pembangunan. Dimana dari penjelasannya bahwa aspek politik-ekonomi dari ketergantungan sangat berpengaruh. Apalagi dia menganalisanya dengan perjuangan kelas dan konflik kelompok. Dengan kata lain, aspek politik cenderung labil dan sangat dipengaruhi kepentingan tertentu. Sehingga pembangunan yang terjadi malah semakin bersifat inklusif pada satu kelompok. Dan sebenarnya politik-ekonomilah yang membuat ketergantungan semakin parah. Jikalau dalam pembangunan ada kepentingan-kepentingan individu, sudah tentu yang diuntungkan hanyalah sebelah pihak saja bukan ? Ini adalah perspektif liberal menurut saya. Jadi membiarkan mekanisme pasar yang berlangsung. Yang mempunyai modal baik politik maupun ekonomi yang akan menang dalam proses pembangunan.
Selain itu, Teori Dependensi baru Cardoso sebagian merupakan tanggapan atas tidak memadainya asumsi-asumsi yang bergantung pada kebangkitan kaum borjuis nasional. Dengan pandangan bahwa pembangunan kapitalis seungguh dapat terjadi dalam ketergantungan, Cardoso mencoba menghindari interpretasi-interpretasi deterministic. Bukannya memanfaatkan kelas sebagai inti konsepnya, melainkan ia berfokus pada hubungan-hubungan structural beragam kelompok, dan ia melewatkan peran perjuangan kelas.
Kritik selanjutnya yaitu teori dependensi baru inia cenderung melihat kelas internal dalam hubungan-hubungan politik utamanya terstruktur oleh modal eksternal, disaat bersamaan teori ini tidak memberikan perbedaan-perbedaan nasional. Dan masih banyak lagi kritik-kritik dari beberapa tokoh terkait teori ini.
Jadi, kesimpulannya, teori ketergantungan baru ini mencerminkan kurangnya kejelasan konseptual dalam interpretasi-interpretasi para penulisnya.


Daftar Pustaka:
Chilote, Ronald H. 2010. Teori Perbandingan  Politik: Penelusuran Paradigma. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sumarsono & Alvin Y. 2006. Perubahan Sosial & Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Tidak ada komentar: